Kampus ICBS Sarang Penghafal Alquran

Allah SWT telah menjamin kemudahan bagi orang yang mempelajari dan menghafal Al Qur’an. Seperti ditegaskan dalam firman-Nya, “Dan sesungguhnya, telah Kami mudahkan Alquran itu untuk menghafalnya maka adakah orang yang mengambil pelajaran?” (QS al-Qomar [54]: 17).

Inilah yang dibuktikan Pesantren Terpadu Insan Cendekia Boarding School (ICBS) Sumatera Barat. Melalui program Daurah Menghafal Al Qur’an yang diselenggarakan berhasil mewujudkan para muhaffidz yang mampu menghafal Al Qur’an hingga empat juz perhari. Dalam empat kali program, setidaknya sudah dihasilkan 42 orang santri hafal Al Qur’an 30 juz.

Direktur Tahfidzul Qur’an ICBS Ustadz H. Okta Veldi Andika Lc mengatakan, menghafal Al Qur’an hingga empat juz dalam sehari bukan sekadar khayalan belaka. Hal tersebut benar-benar dibuktikan beberapa orang santrinya yang mengikuti daurah.

“Al Qur’an itu keajaiban. Jadi, tak mustahil siapa yang berinteraksi dengan Al Qur’an juga dialiri keajaiban-keajaiban dari Al Qur’an. Salah satu bukti keajaiban yang tampak di mata kita adalah kemampuan santri yang bisa menghafal Al Qur’an empat juz sehari. Mereka bukan orang jenius yang IQ-nya sangat tinggi. Mereka orang biasa yang mendapat keajaiban Al Qur’an,” papar Ustaz Veldi kepada Republika, Selasa (10/11).

Daurah Tahfidzul Qur’an merupakan program eksklusif dari Pesantren ICBS ini. Santri yang ingin ikut terlebih dahulu menjalani serangkaian tes. Setelah itu, mereka dibebaskan dari tugas-tugas pesantren dan dikirim ke rumah tahfiz. Selama 15 hingga 20 hari, mereka digembleng untuk menghafal Alquran dengan target minimal satu juz sehari.

“Selama daurah berlangsung, mereka diberikan motivasi setiap hari. Mereka hanya menghafal Al Qur’an saja. Soal urusan lain-lain, seperti mencuci dan keperluan pribadi, mereka dilayani seperti raja. Pokoknya, hidup mereka selama daurah hanya full untuk Al Qur’an,” jelas Veldi.

Menurut sang ustadz, motivasi bagi penghafal Al Qur’an harus terus diberikan. Menurutnya, yang paling menyentuh bagi peserta daurah adalah motivasi bahwa mereka akan dikekalkan bersama Al Qur’an. “Kita katakan bahwa mereka lah yang menjadi penjaga Al Qur’an. Ini yang paling berkesan di hati santri-santri,” katanya.

Pelaksanaan daurah baru kali keempat bagi santri putra dan kali ke dua untuk santri putri. Dalam satu daurah hanya mampu menampung peserta 15 orang. Daurah yang sudah menamatkan 85 orang santri ini telah melahirkan 42 orang hafiz dan hafizah 30 juz. “Sisanya, kebanyakan hafalannya antara 20 hingga 29 juz. Pokoknya yang ikut daurah tidak akan kurang mengantongi hafalan 15 juz,” terang Veldi.

Veldi mengaku, tak ada metode khusus yang diterapkan peserta daurah. Setiap peserta diperkenalkan de ngan berbagai macam metode menghafal Al Qur’an cepat. Setelah itu santri dibebaskan memilih metode yang mereka anggap cocok bagi dirinya. Pembimbing daurah ikut membantu santri dalam menemukan metode yang paling tepat.

“Kita paparkan seluruh metode. Ada yang metode aljawarih (memakai anggota tubuh), metode terjamah, metode audio visual, hingga metode drama dalam membaca Al Qur’an. Mereka menokohkan dirinya seperti kisah yang di ceritakan ayat Al Qur’an. Setelah itu kembali kepada mereka masing-masing mau pakai metode yang mana,” jelasnya.

Setiap peserta diberikan target-target untuk menghafal. Ada sanksi-sanksi tertentu jika peserta tak mencapai target. “Ada namanya istilah ‘the power of kepepet'”. Tanpa mereka sadari, sebenarnya mereka dipaksa untuk menghafal dan menyetorkan hafalannya sebanyak mungkin,” ujar Veldi.

“Dengan sistem ini, beberapa orang santri berhasil memperlihatkan hasil maksimal. Santri kita, Dina Rahmadianti, Wiwid Nabila, dan beberapa orang rekan-rekannya yang lain berhasil menghafal empat juz sehari. Padahal mereka baru kelas sembilan (9) SMP,” tambahnya.

Setiap mewisuda para penghafal Al Qur’an yang dilahirkan daurah tersebut, Veldi selalu memesankan untuk kembali memurajaah hafalan. Menurutnya, menghafal Al Qur’an itu mudah. Yang berat adalah menjaga hafalan tersebut hingga akhir hayat. Prestasi kegiatan daurah tersebut disambut uraian air mata dari para orang tua santri yang menyadari anaknya sudah hafal Alquran.

Terbit di Tabloid Cendekia Edisi Ke-4 Maret 2016
Dikutip dari koran Republika Edisi Jumat, 13 November 2015, bisa dilihat di http://www.republika.co.id/berita/koran/dialog-jumat/15/11/13/nxqx08-daurah-tahfidzul-quran-icbs-cetak-para-penghafal-alquran

About The Author

H. Hannan Putra, Lc - Wakil Pimpinan Pesantren Terpadu Insan Cendekia Boarding School (ICBS) Payakumbuh, Kepala Bagian Humas ICBS, jurnalis Harian Nasional Republika

Comments

Related posts